akhirnya lu berada diusia impian lu waktu kecil.
Akhirnya gue sampai juga di usia yang dulu gue anggap sebagai puncak kehidupan.
Usia di mana versi kecil diri gue yakin: hidup bakal rapi, bahagia, dan penuh pencapaian.
Nyatanya?
Gue cuma berdiri di sini sambil mikir,
“Loh… kok gini doang?” b aja anjirrr
Dulu, waktu masih kecil, gue sering banget mikir:
“Enak ya jadi orang dewasa.” 🗿
Entah kenapa, masa kecil penuh dengan keinginan untuk cepat-cepat gede.
Biar bisa kerja.
Biar punya uang banyak.
Biar bisa beli mobil, motor, rumah.
Biar bisa beli apa pun yang kita mau.
(chahahaha, bajingan).
Lucunya, pas udah gede… realita datang tanpa permisi.
Persahabatan satu-satu hilang.
Kebahagiaan nggak sesederhana dulu.
Masalah ekonomi datang rutin.
Kerja capek.
Gaji kecil.
Jidat mulai M.
Masih single.
Belum bisa ngebahagiain orang tua.
Hidup ngerasa, “kok gini-gini aja, ya?”
Masa kecil memang seru.
Tapi kalau ditanya mau balik lagi?
Belum tentu juga.
Gue jadi keinget satu iklan legendaris: Provider kartu 3 Indie+.
Iklan yang waktu itu terasa cerdas, sensasional, dan nyentil.
Isinya sederhana: anak-anak kecil ngomongin cita-cita mereka saat dewasa nanti.
Tapi sekarang… kok rasanya malah kayak bercermin.
kurleb begini isi kata-katanya
“Kalau aku udah gede, aku mau jadi eksmud.
Mau jadi bos.
Ngomong campur bahasa Inggris tiap hari.
Setiap Jumat pulang kantor, nongkrong bareng sesama eksmud.
Ngomongin proyek besar, biar keliatan sukses.
Suaranya agak digedein, biar kedengeran cewek di meja sebelah.
Weekend sarapan di kafe sambil laptopan.
Pesan kopi secangkir 40 ribuan.
Diminum pelan-pelan, biar tahan sampai siang.
Demi WiFi gratis.
Tanggal tua?
Pagi–siang–malam makan mie instan.
Mau nelpon cuma bisa missed call.
Jadi orang gede menyenangkan,
Tapi susah dijalanin.”
“Kalau aku udah gede, aku pengen kerja di multinational company.
Kerja di gedung tinggi.
Ngomong English tiap hari.
Rambut klimis.
Sepatu mengilap.
Gaya orang penting.
Tapi ngerjain kerjaan yang nggak penting.
Jadi tukang fotokopi.
Bawain laptop.
Beresin kertas.
Nggak masalah kerja 15 jam sehari.
Tidur cuma 5 jam sehari.
Masalahnya, gaji cuma tahan sampai tanggal 15.
Untung warteg masih bisa makan dulu, bayar belakangan.
Tapi sayang, itu nggak berlaku buat beli pulsa.
Jadi orang gede menyenangkan,
Tapi susah dijalanin.”
Iklan itu dulu terasa lucu.
Sekarang terasa… terlalu jujur. dan yaa "jadi orang gede itu menyenangkan tapi susah dijalanin".
Di usia gue yang sekarang—27 tahun—hidup rasanya nano-nano. Manisnya ada. Pahitnya lebih banyak.
Dua–tiga tahun lagi gue kepala tiga. Kata Mbak Gita, atasan kerja gue, usia segitu kalau belum nikah kesannya kayak “udah tua banget”. Tapi anehnya, kalau meninggal di umur segitu orang malah bilang, “kok dah meninggal ya padahal masih muda?”
Hidup emang suka bercanda di timing yang salah. Wkwk.
Tapi gue bersyukur. Karena di usia ini, gue berani ngambil satu keputusan besar. Keputusan yang nggak menyenangkan semua orang, Tapi bikin hidup gue lebih tenang. Lebih sehat. Lebih jujur ke diri sendiri. Dan perlahan… gue bahagia sama hal itu.
Bukankah jadi orang baik itu utamanya buat diri sendiri?
Gue juga keinget satu dialog di film 3 Hari untuk Selamanya.
Nicholas Saputra bilang ke Adinia Wirasti:
“Pas lo umur 27, lo akan ambil satu keputusan penting.
Keputusan yang akan mengubah hidup lo.
Pintu-pintu lo akan dibuka atau ditutup sama Tuhan.
Buat Kurt Cobain sih ditutup.”
Dulu gue nonton sambil mikir,
‘Wah, berat banget ya umur 27.’
Sekarang gue di usia itu.
Dan gue sempat bertanya ke diri sendiri:
Kok gue ngerasa belum ngambil keputusan besar yang dramatis?
Tapi mungkin,
keputusan penting itu nggak selalu kelihatan besar dari luar.
Kadang bentuknya cuma:
berani berhenti,
berani bertahan,
atau berani milih diri sendiri.
Di usia ini, gue mulai benar-benar melihat:
siapa diri gue,
apa yang gue inginkan,
dan ke mana gue mau melangkah.
Kalau sekarang gue sering bingung,
gelisah,
atau sedih tanpa sebab,
itu wajar.
Artinya gue sedang tumbuh.
Dan seperti semua proses pertumbuhan,
kadang memang terasa menyakitkan.
Kalau versi kecil gue bisa lihat gue sekarang,
mungkin dia kecewa…
tapi gue berharap dia tetap bangga karena gue masih berdiri. anjayyy
Akhirnya gue sampai di usia impian gue waktu kecil.
Dan di sinilah gue sadar:
yang gue cari selama ini bukan umur—
tapi ketenangan.
Komentar
Posting Komentar