Resolusi Ramadan: Sebuah Tamparan yang Menyadarkan
Ramadan selalu datang setiap tahun, tapi pertanyaannya selalu sama: apakah kita yang berubah, atau hanya tanggal di kalender yang berubah?
Gue pernah membaca sebuah kalimat yang cukup menampar: “Bila sekelas Ramadan saja tidak sanggup mengubahmu, maka tangisilah dirimu. Barangkali pekatnya dosa telah menutupi mata hatimu dari terangnya hidayah.”
Jujur, kata-kata itu terasa keras, tapi ada benarnya. Ramadan seharusnya menjadi momen paling kuat untuk berubah. Bahkan menurut gue, resolusi Ramadan jauh lebih ampuh daripada resolusi tahun baru.
Di bulan suci ini, kita punya begitu banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik: bersedekah, menjadi lebih bermanfaat, meraih pahala sebanyak-banyaknya, memperbaiki ucapan, yang tadinya sering berbicara kasar menjadi lebih lembut, lebih banyak diam dan berbicara seperlunya. Lalu ada tarawih, tadarus Al-Qur’an, salat berjamaah di masjid, salat malam, tahajud, dan masih banyak lagi. MasyaAllah, begitu banyak pintu kebaikan yang dibukakan di bulan Ramadan.
Karena itu, Ramadan seharusnya kita jadikan momen terbaik. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan lagi atau tidak.
Kalau dipikir-pikir, selama Ramadan kemarin kita lebih banyak apa? Lebih banyak buka bersama? Lebih banyak main TikTok? Lebih banyak mengikuti tren? Atau justru lebih banyak ibadah—puasanya, tarawihnya, tadarusnya? Pertanyaan itu seharusnya kita tanyakan kepada diri kita masing-masing.
Gue pun sama, manusia biasa yang sedang belajar istiqamah. Di awal Ramadan biasanya semangat sekali: salat tepat waktu, tahajud, tadarus, tarawih, bahkan murojaah Al-Qur’an. Tapi semakin mendekati akhir Ramadan, kadang semangat itu menurun lagi, dan tanpa sadar mengulang kesalahan yang sama. Padahal seharusnya yang paling kuat itu bukan yang semangat di awal, tapi yang mampu bertahan sampai akhir.
Walaupun Ramadan tahun ini terasa masih jauh dari kata sempurna, gue tetap berharap semoga puasa dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Semoga kita semua masih diberikan umur panjang dan kesehatan, sehingga bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan di tahun berikutnya.
Untuk teman-teman yang mudik, hati-hati di jalan saat berangkat ke kampung halaman maupun saat kembali dari kampung halaman. Semoga selamat sampai tujuan dan bisa berkumpul dengan keluarga tercinta.
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Selamat merayakan Idul Fitri 1447 H / 2026 M.
Terima kasih juga untuk semua kebaikan yang sudah ngasih gue parsel, THR, dan perhatian yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Jazakumullahu khairan katsiran. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar